Menghubungkan n8n ke Telegram: AI Agent yang Benar-Benar Bekerja
Kalau kalian tanya ChatGPT untuk membuatkan lima ide judul artikel, jawabannya nangkring di layar. Setelah itu, kalian sendiri yang harus menyalinnya, membuka aplikasi lain, dan menempelkannya secara manual. AI-nya berhenti bekerja begitu jawaban muncul.
Saya ingin tahu apakah AI Agent yang saya bangun bisa melangkah lebih jauh dari itu. Bukan sekadar menjawab, tapi benar-benar menyelesaikan sesuatu sampai tuntas, tanpa saya sentuh sama sekali setelah menekan tombol.
Menyambung Satu Node Lagi
Workflow yang sudah saya buat sebelumnya saat mencoba AI Agent pertama di n8n baru sampai di titik: trigger manual, lalu node Google Gemini yang menghasilkan lima ide judul artikel.
Untuk membuat AI ini benar-benar "bekerja", saya perlu menambah satu langkah lagi: mengirim hasil itu ke tempat yang bisa saya lihat tanpa membuka n8n sama sekali.
Awalnya saya berencana menyimpan hasilnya ke Google Sheets. Tapi setelah mencoba, ternyata autentikasinya membutuhkan setup OAuth lewat Google Cloud Console, langkah yang menurut saya terlalu rumit untuk percobaan tahap awal seperti ini.
Saya ganti rencana ke Telegram, jauh lebih sederhana untuk disiapkan, dan hasilnya juga lebih terasa: notifikasi langsung masuk ke ponsel.
Membuat Bot Telegram
Menyiapkan bot Telegram ternyata tidak butuh dashboard developer atau proses pendaftaran yang panjang. Saya cukup membuka Telegram, mencari akun bernama BotFather, lalu mengetik perintah /newbot.
BotFather meminta nama bot dan username yang unik, harus diakhiri kata "bot". Setelah itu, saya langsung mendapat sebuah token, deretan huruf dan angka yang nantinya jadi kunci penghubung antara n8n dan bot Telegram saya.
Satu langkah yang mudah terlewat: saya harus mencari bot saya sendiri di Telegram dan menekan Start terlebih dahulu. Tanpa ini, bot tidak diizinkan mengirim pesan duluan ke saya.
Menyambungkan Node Telegram
Kembali ke n8n, saya menambahkan node baru di sebelah node Gemini, mencari "Telegram", lalu memilih aksi "Send a text message".
Ada dua hal yang perlu diisi selain token tadi:
Chat ID, nomor unik yang menandakan pesan ini harus dikirim ke percakapan siapa. Saya mendapatkannya dengan cara sederhana, membuka bot lain bernama @userinfobot, menekan Start, dan bot itu langsung membalas dengan sebuah angka Id.
Text, isi pesan yang mau dikirim. Di sinilah bagian yang membuat workflow ini terasa seperti agent, bukan sekadar dua node yang berdiri sendiri.
Saya tidak mengetik pesan secara manual, tapi mengambilnya langsung dari hasil node Gemini sebelumnya, lewat satu baris:
{{ $json.content.parts[0].text }}
Error yang Justru Mengajarkan Sesuatu
Percobaan pertama saya gagal. Pesannya muncul error: Bad Request, can't parse entities.
Setelah dicek, penyebabnya jelas. Hasil dari Gemini mengandung tanda bintang ganda untuk format tebal, semacam **seperti ini**. Telegram, secara default, mencoba membaca tanda itu sebagai instruksi format resmi mereka.
Masalahnya, format markdown dari Gemini tidak selalu cocok persis dengan aturan parsing Telegram, jadi yang terjadi bukan teks jadi tebal, tapi Telegram bingung dan menolak seluruh pesan.
Solusinya ada di bagian Additional Fields, opsi bernama Parse Mode. Saya mengganti nilainya ke HTML, salah satu dari beberapa pilihan yang tersedia selain Markdown. Setelah diganti, pesan berhasil terkirim, meskipun tanda bintangnya masih muncul apa adanya, bukan benar-benar tebal.
Ini pengorbanan kecil yang saya terima untuk sekarang. Yang penting pesannya sampai tanpa error. Urusan tampilan bisa dirapikan belakangan.
Hasil di Ponsel
Setelah error itu selesai, saya klik Execute step sekali lagi. Panel Output n8n menunjukkan ok: true, lengkap dengan detail chat, dan waktu pesan terkirim.
Saya buka Telegram di ponsel. Pesannya sudah ada di sana, dari bot bernama Mustafa Zain Assistant, berisi lima ide judul artikel lengkap dengan penjelasan singkat kenapa tiap judul dipilih, ditutup dengan keterangan kecil: this message was sent automatically with n8n.
Ini titik yang menurut saya penting untuk dicatat. Saya tidak mengetik satu kata pun di Telegram. Saya hanya menekan satu tombol di n8n, dan AI-nya yang menyelesaikan sisanya, dari membuat ide, sampai mengantarkannya ke ponsel saya sendiri.
Bedanya dengan Sekadar Bertanya ke Chatbot
Kalau dibandingkan langsung, hasil teksnya sebenarnya tidak jauh beda dengan yang bisa saya dapatkan dari bertanya ke ChatGPT atau Gemini biasa. Isinya sama-sama lima ide judul artikel.
Yang berbeda adalah apa yang terjadi setelah jawaban itu muncul.
Chatbot berhenti begitu teks selesai ditulis. Saya yang harus menyalin, membuka aplikasi lain, menempelkannya sendiri. AI Agent yang saya bangun ini melanjutkan pekerjaannya, mengantarkan hasilnya sampai ke tempat yang saya mau, tanpa saya sentuh sama sekali setelah klik pertama.
Selisihnya memang cuma satu langkah kecil. Tapi satu langkah itu yang menurut saya jadi pembeda paling nyata antara chatbot dan AI Agent adalah "AI yang menjawab" dan "AI yang bekerja".
Langkah Berikutnya
Workflow ini masih saya jalankan secara manual, saya yang klik tombolnya setiap kali. Belum benar-benar otomatis dalam artian jalan sendiri tanpa saya minta.
Yang ingin saya coba berikutnya: mengganti trigger manual ini dengan trigger berbasis jadwal, supaya AI ini bisa mengirim ide judul artikel setiap pagi, tanpa saya buka n8n sama sekali. Kalau berhasil, itu jadi pembeda berikutnya yang ingin saya buktikan sendiri.

